BANGKA LBC — Seorang oknum pegawai bagian bendahara DPRD Kabupaten Bangka berinisial MI alias Muhamad Ilham (25) diduga melakukan penganiayaan terhadap seorang pemuda bernama Aldo (25) beserta pamannya. Peristiwa tersebut terjadi pada Senin siang (22/12/2025) dan kini tengah ditangani oleh Polres Bangka.
Insiden penganiayaan itu diduga dipicu oleh konflik pribadi terkait hubungan asmara antara Aldo dengan Aisyah, yang merupakan sepupu dari terduga pelaku. Menurut keterangan keluarga korban, hubungan tersebut dipersoalkan oleh pihak keluarga pelaku yang mendesak agar keduanya segera menikah, namun berujung cekcok dan kekerasan.
Peristiwa terjadi di rumah Lia, bibi Aldo, yang berlokasi tidak jauh dari area pelantikan 2.814 Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu Pemerintah Kabupaten Bangka.
“Awalnya hanya Aisyah yang datang sendirian sambil menangis dan meminta agar hubungan mereka diakhiri. Situasi masih terkendali. Namun, begitu Ilham yang merupakan pegawai sekretariat DPRD Kabupaten Bangka datang, suasana langsung memanas dan berujung pemukulan,” ujar Lia saat dikonfirmasi, Rabu (24/12/2025).
Lia menjelaskan, terduga pelaku langsung memukul Aldo hingga terjatuh. Saat paman Aldo mencoba melerai, ia justru ikut menjadi korban dan mendapat pukulan keras di bagian kepala. Aksi tersebut disaksikan oleh beberapa orang, termasuk sejumlah pegawai bendahara DPRD Bangka yang turut datang belakangan ke lokasi kejadian.
Akibat kejadian itu, Aldo mengalami luka lebam di pelipis mata kanan serta luka di bibir akibat tergores. Korban kemudian dilarikan ke RSUD Depati Bahrin Sungailiat untuk menjalani visum dan mendapatkan perawatan medis.
Keluarga korban telah melaporkan peristiwa tersebut ke Polres Bangka. Laporan polisi dibuat dengan dugaan tindak pidana penganiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 351 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).
Kasat Reserse Kriminal Polres Bangka, AKP Satya Bhakti, membenarkan adanya laporan tersebut.
“Laporan sudah kami terima dan saat ini masih dalam proses penyelidikan,” ujarnya singkat tanpa merinci lebih lanjut.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak DPRD Kabupaten Bangka belum memberikan pernyataan resmi terkait status kepegawaian terduga pelaku. Sekretaris DPRD Bangka mengaku masih mengumpulkan informasi internal terkait peristiwa tersebut.
Kasus ini kembali menyoroti keterlibatan aparatur sipil negara dalam konflik pribadi yang berujung kekerasan. Masyarakat berharap penanganan perkara dilakukan secara transparan dan profesional guna menjaga kepercayaan publik terhadap institusi legislatif daerah.











