PANGKALPINANG LBC — Di balik hiruk-pikuk pusat Kota Pangkalpinang sebuah praktik gelap diduga berjalan rapi, senyap, dan sulit terdeteksi.
Modusnya tak lagi konvensional. Tanpa resepsionis, tanpa tatap muka, namun transaksi tetap berlangsung, yang menyasar pada muda mudi hingga pelajar tingkat SMA dan SMK di Kota Pangkalpinang sekitarnya.
Investigasi awal yang dihimpun awak media ini mengarah pada dugaan keterlibatan seorang pengusaha penginapan berinisial S, yang diduga mengelola sistem penginapan berbasis akses digital. Penginapan ini disebut-sebut menjadi lokasi prostitusi terselubung yang melibatkan remaja di bawah umur.
Seorang informan yang enggan disebutkan identitasnya, Ujang (nama samaran), mengungkapkan bahwa praktik tersebut telah berlangsung dengan pola yang terstruktur. Pelanggan tidak perlu datang ke meja resepsionis atau berinteraksi langsung dengan pengelola.
“Cukup transfer sekitar Rp 60 ribu hingga 100 ribu, nanti dikirim kode akses kamar lewat WhatsApp. Tinggal datang, tekan kode, pintu terbuka,” ujarnya kepada tim investigasi, Selasa (24/3/2026).
Sistem Tanpa Jejak Fisik
Model operasional ini meminimalisir jejak fisik dan interaksi manusia, sehingga sulit dilacak aparat maupun masyarakat sekitar. Tidak adanya petugas di lokasi membuat penginapan tersebut tampak seperti bangunan biasa, tanpa aktivitas mencurigakan secara kasat mata.
Namun, di balik itu, Ujang mengklaim aktivitas keluar-masuk pengunjung justru ramai, terutama pada malam hari. Yang mencengangkan, sebagian di antaranya diduga masih berstatus pelajar.
“Banyak anak muda, bahkan ada yang masih pakai seragam sekolah. Mereka datang berpasangan, ada juga yang memang ‘melayani’,” ungkapnya.
Dugaan Korban: Pelajar Hamil
Lebih jauh, informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa dalam kurun waktu tiga bulan pertama tahun 2026 saja, setidaknya terdapat lima siswi SMA/SMK di Pangkalpinang yang dilaporkan hamil. Meski belum dapat dipastikan keterkaitannya secara langsung dengan lokasi tersebut, tapi dugaan adanya benang merah semakin menguat.
“Kalau mau bukti, lakukan saja tes kehamilan serentak. Akan ketahuan siapa saja yang terdampak dan sekolah mana saja yang siswinya hamil,” kata Ujang.
Pernyataan ini tentu memantik kekhawatiran serius, bukan hanya soal moralitas, tetapi juga perlindungan anak dan masa depan generasi muda.
Lemahnya Pengawasan, menjadi Tanda Tanya
Fenomena ini menjadi tamparan keras bagi berbagai pihak, khususnya pengawasan terhadap pelajar di luar lingkungan sekolah. Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yang membawahi SMA dan SMK, dinilai perlu meningkatkan peran pengawasan dan pembinaan.
Tak hanya itu, aparat penegak hukum juga didesak untuk menelusuri dugaan praktik prostitusi berbasis digital ini. Jika terbukti melibatkan anak di bawah umur, maka kasus ini berpotensi masuk dalam kategori eksploitasi seksual anak, yang ancaman hukumannya berat.
Menelusuri Lokasi Misterius
Hingga berita ini diturunkan, lokasi pasti penginapan tersebut belum dapat dipublikasikan. Informan hanya menyebutkan bahwa tempat itu berada “di tengah kota”. Upaya tim untuk memperoleh bukti visual masih berlangsung.
Bangunan yang disulap menjadi penginapan ini berbentuk ruko empat lantai tanpa papan nama penginapan atau hotel.
Harga kamar dibandrol mulai Rp 60.000 dengan fasilitas kipas angin, Rp 80.000 fasilitas AC tanpa selimut dan Rp100.000 fasilitas AC plus selimut.
Setelah melakukan pembayaran melalui transfer ke nomor rekening atas nama Sukijanto. Lalu pelanggan atau tamu akan diberikan kode oleh admin bernama Pita untuk akses masuk dan ambil kunci kamar.
Menurut keterangan salah satu pelajar yang sempat ditemui media ini, bahwa lokasi penginapan itu menjadi salah satu tempat oknum pelajar membawa pacar mereka untuk menginap dan melakukan hubungan terlarang.
“Basa mereka membawa pacarnya ke penginapan tersebut karena harganya terjangkau. Selain itu aman karena untuk masuk ke dalam kamar harus pakai kode akses,” ujar Jame (nama samaran), Selasa (24/3/2026) malam.
Karena itu, kata Dia, penginapan tersebut banyak di minati para muda mudi khususnya para pelajar yang ingin memadu kasih dengan pasangannya.
Kasus ini membuka tabir baru tentang bagaimana praktik prostitusi kini bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi, lebih tersembunyi, lebih sistematis, dan lebih sulit dijangkau.
Pertanyaannya, sampai kapan praktik seperti ini dibiarkan berjalan di ruang-ruang sunyi kota?.











