PANGKALPINANG, RBC – Kelurahan Tuatunu Indah, Kecamatan Gerunggang, Kota Pangkalpinang terus dipersiapkan sebagai sentra pengembangan nanas sekaligus pusat produksi olahan nanas di Bangka Belitung.
Langkah tersebut merupakan bagian dari program penguatan ekonomi masyarakat melalui pengembangan UMKM berbasis potensi lokal yang saat ini tengah didorong Pemerintah Kota Pangkalpinang.
Lurah Tuatunu Indah, Iwan Bernadi, mengatakan pihaknya bersama masyarakat telah beberapa kali melaksanakan pelatihan dan kegiatan pengolahan nanas guna meningkatkan nilai tambah hasil pertanian warga.
“Kami sudah beberapa kali mengadakan kegiatan pengolahan nanas. Selain itu, kami juga memfasilitasi UMKM melalui rumah produksi dan rencana pengadaan peralatan untuk mendukung pengembangan produk olahan,” kata Iwan, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, seluruh bahan baku nanas yang digunakan berasal dari petani lokal Tuatunu Indah. Saat ini luas lahan nanas di wilayah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 50 hektare dan menjadi salah satu sentra produksi terbesar di Kota Pangkalpinang.
Iwan menjelaskan terdapat sekitar seribu petani nanas yang menggantungkan hidup dari komoditas tersebut. Namun selama ini petani sering menghadapi persoalan fluktuasi harga yang menyebabkan minat menanam nanas menurun.
“Harga nanas di tingkat petani sering rendah. Bahkan ada masa-masa petani enggan menanam karena hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan,” ujarnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah kelurahan bersama pelaku UMKM mulai mengembangkan berbagai produk turunan nanas seperti selai, dodol, hingga rencana produksi mochi berbahan dasar nanas.
Iwan berharap hilirisasi produk tersebut dapat meningkatkan nilai jual nanas sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat petani.
Selama ini, sebagian besar hasil panen nanas dari Tuatunu Indah masih dijual dalam bentuk buah segar ke luar daerah, terutama Jakarta. Ironisnya, harga yang diterima petani hanya berkisar Rp7.000 per buah, sementara di pasar konsumen luar daerah nilainya bisa mencapai Rp25.000.
“Karena itu kami berharap pengolahan produk bisa berkembang. Jika nilai tambahnya meningkat, maka kesejahteraan petani juga akan ikut meningkat,” jelasnya.
Ia optimistis pengembangan sentra nanas dan UMKM olahan nanas akan menjadi solusi untuk menjaga keberlangsungan usaha para petani sekaligus menjadikan Tuatunu Indah sebagai ikon baru produk unggulan Kota Pangkalpinang.
“Kami ingin petani tetap semangat menanam nanas. Dengan adanya industri olahan dan dukungan pemasaran, komoditas ini bisa menjadi kekuatan ekonomi masyarakat ke depan,” pungkasnya.












