PANGKALPINANG LBC — Inflasi Kota Pangkalpinang pada triwulan II tahun 2026 tercatat sebesar 4,1 persen. Angka tersebut berada di atas target nasional 2,5 persen plus minus 1 persen.
Hal itu disampaikan Pak Juhaini Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdako Pangkalpinang, saat menyampaikan hasil Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi triwulan tahun 2026, Senin (7/9/2026), sekaligus merilis pertumbuhan ekonomi semester II.
“Sebagaimana kita ketahui, inflasi kita di angka 4,1. Angka yang tinggi di atas target nasional 2,5 + 1,” ujar Juhaini.
Menurutnya, penyumbang terbesar inflasi berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan andil 2,06 persen. Tiga komoditas utama yang mendorong kenaikan adalah daging ayam ras, angkutan udara, dan bensin.
Perayaan Hari Besar Picu Lonjakan Permintaan
Juhaini menjelaskan, lonjakan harga pada Agustus lalu tidak terlepas dari rangkaian perayaan hari besar keagamaan. Pada bulan tersebut ada peringatan Maulid Nabi dan tradisi sembahyang rebut dengan sesajen.
“Di bulan Agustus kemarin ada perayaan hari-hari besar Maulid Nabi kemudian sembahyang tersebut. Ini mempengaruhi pasar di Pangkalpinang yang menjadi rujukan bagi daerah sekitar,” katanya.
Ia mencontohkan, meskipun perayaan Maulid dipusatkan di beberapa wilayah seperti Kabupaten Bangka, masyarakat dari desa-desa justru berbelanja ke Pasar Pangkalpinang. Komoditas yang paling banyak diburu adalah ayam dan sayur-sayuran di Pasar Induk maupun Pasar Pagi.
“Biasanya ketersediaan cukup untuk masyarakat Pangkalpinang, tiba-tiba meningkat dengan adanya peringatan hari Maulid Nabi. Masyarakat di luar Pangkalpinang banyak berbelanja komoditas terutama ayam dan sayur-sayuran ke wilayah pasar kita,” jelas Juhaini.
Dampaknya, andil inflasi dari daging ayam ras tercatat 0,84 persen.
Faktor Sekolah dan SPPG
Selain faktor keagamaan, periode Juli juga menjadi pemicu. Anak-anak sekolah baru masuk dan program SPPG baru beroperasi. Hal itu membuat permintaan komoditas pokok meningkat karena puluhan titik SPPG beroperasi di Pangkalpinang.
“Anak-anak ataupun pelajar-pelajar kita baru masuk sekolah, kemudian SPPG kita juga baru beroperasi. Komoditas pokok praktis mengalami peningkatan,” ujarnya.
Untuk sektor transportasi, andil inflasi angkutan udara tercatat 0,31 persen dan bensin 0,23 persen.
Pemerintah Kota Pangkalpinang, lanjut Juhaini, akan terus memantau ketersediaan stok dan distribusi komoditas utama, terutama menjelang hari besar keagamaan, agar gejolak harga tidak kembali menekan daya beli masyarakat.












